Hubungan
gaya belajar Peserta didik dengan metode mengajar Pendidik.
“Guru Ku Ceramah terus,,,,Bosan,,,”
Keluhan seperti
diatas sering sekali kita dengar dari anak-anak kita yang merasa tidak nyaman dengan
metode yang diterapkan guru mereka dalam mengajar.Tidak bisa kita
pungkiri,metode ceramah adalah metode yang dirasa sangat efektif oleh sebagian
besar guru-guru,baik itu guru SD,SLTP sampai SMA .Bahkan, guru-guru TK dan Play
Group pun masih tetap menganggap bahwa ceramah adalah “jurus terjitu” yang
sangat efektif dalam proses transfer ilmu kepada peserta didik mereka,tanpa
mereka sadari bahwa tidak semua anak bisa dengan mudah memahami apa yang mereka
ajarkan,karena tiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda.
Tardif (1989) mendefinisikan,
mengajar adalah: any action performed by an individual (the
teacher) with the intention of facilitating learning in another individual (the
learner), yang berarti mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang
(dalam hal ini pendidik) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain
(dalam hal ini peserta didik) melakukan kegiatan belajar. Jadi, pada dasarnya
prestasi peserta didik sangat dipengaruhi oleh kompetensi pengajarnya.Pendidik
yang tidak menguasai psikologi belajar peserta didik sudah tidak dapat
diandalkan lagi dalam konteks pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya sebagai
seorang yang professional.
Sebagai seorang
pendidik profesional,memahami gaya belajar tiap peserta didik sangatlah
penting.Dengan memahami gaya belajar tiap peserta didik maka pendidik dapat menerapkan teknik dan strategi yang
tepat baik dalam pembelajaran maupun dalam pengembangan diri peserta didik.Karena
hanya dengan penerapan yang sesuai maka tingkat keberhasilan dalam pembelajaran
akan lebih tinggi.
Untuk itu marilah kita kenali beberapa gaya
belajar peserta didik yang penulis
rangkum dari Quantum
Learning ( 112-120) diantaranya yaitu :
1.
Gaya Belajar Visual.
Bagi siswa yang memiliki gaya
belajar visual, mata/penglihatan (visual) memegang peranan penting.
Ciri-ciri gaya belajar
Visual :
a)
Bicara agak cepat.
b)
Mementingkan penampilan dalam berpakaian.
c)
Tidak mudah terganggu oleh keributan
d)
Mengingat yang dilihat daripada yang didengar
e)
Lebih suka membaca daripada dibacakan karena
termasuk pembaca yang cepat dan tekun.
f)
Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi
verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk
mengulanginya.
2.
Gaya belajar Auditori
Peserta didik yang memiliki
gaya belajar Auditori lebih banyak menggunakan indera pendengarannya dalam
mengikuti proses belajar mengajar.
Ciri-ciri gaya belajar
Auditori :
a)
Penampilan rapi
b)
Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
c)
Mudah terganggu oleh keributan
d)
Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa
yang didiskusikan daripada yang dilihat
e)
Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
f)
Dapat mengulangi kembali dan menirukan
nada,berirama dan warna suara.
3.
Gaya belajar Kinestetik
Siswa yang memiliki gaya
belajar Kinestetik sering belajar melalui gerak dan sentuhan.
Ciri-ciri gaya belajar
Kinestetik :
a)
Berbicara pelan
b)
Penampilan rapi
c)
Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi
keributan
d)
Menghapal dengan cara berjalan dan melihat
e)
Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika
membaca
f)
Menyukai permainan yang menyibukkan.
Setelah
mengenal dan memahami beberapa gaya belajar peserta didik, maka kita sebagai
pendidik hendaknya mengenali betul anak didik kita dan hendaknya pendidik
memiliki berbagai metode mengajar, agar siswa dapat menerima atau mengerti apa
yang disampaikan oleh gurunya dengan seefektif dan seefisien mungkin.
Metode mengajar jelas erat hubungannya dengan gaya
belajar peserta didik, karena dalam proses belajar mengajar yang baik adalah
apabila terjadi interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Untuk itu maka
pendidik harus dapat menciptakan situasi yang nyaman, membangkitkan semangat
belajar, menggairahkan dan membuat siswa antusias untuk belajar. Sehingga
tujuan pembelajaran tercapai.
Seorang pendidik sebaiknya terus mengembangkan kreasi dan
inovasi dalam hal metode mengajar.Sehingga peserta didik yang memiliki gaya
belajar yang berbeda-beda tersebut bisa dengan mudah menyimak,mencerna,mengerti
dan mengaplikasikan apa yang telah mereka peroleh dari pendidik.Dengan demikian
tujuan belajar dan mengajar yang menunjukkan perubahan tingkah laku yang
positif dapat terwujud sebagaimana yang diharapkan oleh pendidik terhadap
peserta didiknya.
Sudah saatnya kita sebagai pendidik untuk keluar dari
“kebiasaan lama”,yang menjadikan metode ceramah satu-satunya obat ampuh untuk
menyembuhkan penyakit kronis kegagalan siswa dalam pembelajaran. Saatnya kita
sebagai pendidik untuk memanfaatkan kemajuan IPTEK dan menciptakan inovasi
dalam proses belajar mengajar.Karena,sangat tidak mungkin kita mengharapkan
perubahan yang signifikan dari peserta didik jika kita hanya melakukan hal-hal
yang itu-itu saja tanpa perubahan yang berarti.
Oleh karena itu,marilah kita sebagai pendidik
untuk terus berbenah diri dan terus menggali potensi yang kita miliki untuk
membantu peserta didik mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik dari masa ke
masa,sehingga tercipta generasi yang memajukan bangsa.

1 komentar:
Mudah-mudahan anak murid kita nggak ada yg mengeluh seperti itu,,,amienn
Posting Komentar